Catatan Iseng "J"

Catatan yang mungkin tidak seharusnya dilupakan

Rabu, 16 Agustus 2017

Pengalaman menuju Perkuliahan


"Universitas atau Pekerjaan"
   Menjelang kelulusan dari SMANDAE, kami mendapat surat beasiswa untuk kuliah gratis di bawah pengawasan PT. Sinarmas. Mendapat surat itu, aku pun ikut serta untuk menguji diri. Banyak hal yang "terpaksa" ku penuhi untuk memenuhi syarat yang dibutuhkan. Seperti KTP, Legalisir rapor, dll. Yup, pada saat itu aku belum memiliki KTP.
  Setelah semuanya selesai diurus, tibalah saat untuk tes wawancara. Sejujurnya hatiku tidak ingin aku lulus di tes itu. Karena terlintas di pikiranku bahwa kerja di sana seperti burung yang hidup di sangkar emas. Yup, itu hanya pikiranku saja. 
  Beberapa hari setelah tes, beberapa temanku sudah mendapat pesan selamat kelulusan dari perwakilan PT. Sinarmas. Tetapi aku tidak demikian. "Aku rasa aku nggak lulus", benar saja. Aku tidak lulus dites wawancara itu. tetapi tak apa. Aku tahu jika hal itu mungkin memang pantas untuk ku. Karena hal ini, aku menjadi lebih yakin untuk kuliah saja. Karena pikiranku memang menginginkan hal itu.

"Universitas dan Jurusan"
  Aku dan teman-teman satu angkatan mulai didaftarkan ke jalur SNMPTN dan PBUD oleh guru kami. Entah kenapa aku sangat ingin kuliah di UNRI dengan mengambil jurusan Bimbingan Konsling dan Keperawatan. Karena sangat ingin, aku tidak mengambil kesempatan untuk mendaftarkan diri ke UIN pada jalur yang sama.
  Hal yang salah dari pikiranku adalah mendaftar kuliah tidaklah semudah mendaftar di SD, SMP dan SMA. Yup, Aku tidak lulus dari jalur SNMPTN. Hal ini membuatku lebih yakin untuk ikut ke jalur mandiri. Pilihanku masih sama, yaitu ingin masuk ke UNRI. Karena keinginanku ini, aku terus menunggu info jalur mandiri dari UNRI. Namun, ketika jalur mandiri UNRI di buka aku kecewa karena jurusan yang aku inginkan tak lagi tersedia.
  Aku coba mendaftar di UIN melalui jalur mandiri dengan jurusan yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu Teknik Informatika. Jurusan ini sebenarnya telah "tertanam" pada diriku sejak aku SMP. Aku memang tidak mengenal jurusan ini, tetapi aku sudah mempelajarinya secara tidak sadar pada bagian pemprograman Web. Dulunya aku hanya iseng saja karena penasaran dengan suatu script yang menggunakan  bahasa PHP, yaitu bot like, bot komen dan bot status untuk Facebook. Untuk sebagian orang ku rasa tidak akan asing dengan bot ini. 
  Ketika aku menghadapi tes mandiri di UIN, aku merasa konyol. Perasaan ini muncul karena aku sama sekali tidak paham dengan Bahasa Arab. Untuk soal lain seperti Matematika, Fisika dan Kimia juga parah, karena ketika itu aku tidak membawa pena maupun pensil untuk menjumlahkan. Tentu saja aku mendapat nilai yang tidak memuaskan. Sampailah pada waktu pengumuman untuk peserta yang mendaftar di UIN. Aku cek kelulusan ku dan hasilnya sudah dapat ditebak, yaitu "TIDAK LULUS".
  Akhirnya aku mendaftar kembali pada universitas lain, yaitu UIR dengan jurusan Teknik Informatika dan Matematika. Kali ini kupersiapkan dengan baik. Karena tesnya menggunakan pensil, tentunya aku tak lagi takut dengan kekonyolan yang telah lalu. Mungkin mereka bilang bahwa yang masuk ke UIR akan di jamin lulus. Tapi aku ragu dengan jaminan itu. Keraguan itu muncul karena aku telah membaca berita dan mendengar kabar bahwa UIR telah menerapkan Quota pada setiap jurusan. Wajar hal itu terjadi, karena walaupun UIR adalah universitas swasta, tetapi UIR tidak kalah dengan Universitas negeri, Itu adalah pikiranku saat ini. Aku berpikir seperti itu karena setiap jurusan di UIR, rata-rata sudah berakreditas B dan tentunya banyak juga yang menyarankanku untuk masuk ke UIR. 
  Ketika aku ikut tes di UIR pada tanggal 8 Agustus 2017 di gelombang ke-2. Soal tes yang ada cukup untuk bikin pusing kepala karena jumlah total dari soal itu mencapai 100 soal. Jujur saja, yang benar-benar ku jawab adalah tes pengetahuan tentang agama, matematika dan sedikitnya bahasa inggris. Untuk fisika dan kimia, aku menggunakan perhitungan khusus yaitu perhitungan persentase yang mendekati kebenaran. Aku yakin orang mengenal perhitungan khusus ini dengan "sembarangan" atau apalah. Ya kurang lebih begitu, hanya saja aku menggunakan feeling agar sedikit yakin bahwa jawaban itu benar.
 Alhamdulillah, ketika hari pengumuman kelulusan itu tiba aku dinyatakan lulus. Ini bertanda bahwa UIR lah yang pantas untukku. Aku tidak ingin membenarkan bahwa UIR menjamin pesertanya lulus karena temanku bercerita bahwa ada seseorang yang merupakan temannya yang bisa dibilang "Pintar" namun tidak lulus di UIR pada jurusan yang sama denganku, yaitu Teknik Informatika. Tapi aku tidak akan membahas itu.
  
"Tempat Tinggal di Pekan Baru"
  Aku tinggal bersama dua orang temanku, yaitu Ilham Wahyudi dan Bambang Irawan. Mereka telah lulus sebelum aku karena mereka sudah ikut tes di jalur mandiri pada gelombang pertama. Kami bertiga mengontrak sebuah rumah yang baru siap untuk di tinggali dengan harga 12 juta untuk setahun. Isi dari kontrakan itu hanyalah mesin penyedot air otomatis. Jarak kontrakan kami ke UIR berdasarkan Google Maps berjarak sekitar 3 KM. Lumayan jauh bila tidak menggunakan kendaraan. 

Bersambung ... 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar